Strategi Public Relations di Era AI, Tetap Utamakan Human Touch
BANDUNG, Sikom.id - Strategi public relations di era AI semakin penting seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Teknologi kini mampu membantu praktisi komunikasi mengolah data, memantau percakapan publik, hingga menyusun konten dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan besar. Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan peran praktisi public relations (PR) di masa depan? Pertanyaan itu menjadi salah satu pembahasan dalam webinar bertajuk “Public Relations in the Era of Artificial Intelligence”.
Webinar tersebut menghadirkan Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas).
Strategi Public Relations di Era AI Terus Mengalami Perubahan
Dalam diskusi tersebut, Nurlaela menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara kerja praktisi PR. Perubahan itu berlangsung secara bertahap, dari pola komunikasi tradisional hingga pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, pekerjaan PR dahulu banyak berkaitan dengan aktivitas manual. Salah satunya mengumpulkan pemberitaan melalui kliping koran.
Kini, aktivitas tersebut berkembang menjadi social listening. Praktisi dapat memantau percakapan masyarakat melalui berbagai kanal digital.
Perubahan ini membuat pekerjaan PR menjadi lebih cepat dan terukur. Selain itu, teknologi memungkinkan komunikasi dibuat lebih personal sesuai karakter audiens.
Transformasi tersebut juga memperluas jangkauan komunikasi. Praktisi PR dapat menggunakan data untuk memahami kebutuhan kelompok masyarakat yang berbeda.
Namun, perkembangan teknologi tidak berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang. Kemampuan membaca situasi, menyusun strategi, dan memahami emosi publik tetap menjadi bagian penting dalam pekerjaan PR.
Nurlaela mengacu pada riset Chartered Institute of Public Relations (CIPR) tahun 2024. Riset tersebut memperkirakan sekitar 30 persen pekerjaan PR berpotensi terdampak otomatisasi AI.
Sementara itu, sekitar 70 persen pekerjaan lainnya masih membutuhkan kemampuan manusia. Pekerjaan tersebut mencakup strategi komunikasi, kreativitas kampanye, serta pertimbangan dalam mengambil keputusan.
AI Menjadi Alat Pendukung Praktisi PR
Kehadiran AI juga mulai mengubah berbagai aktivitas praktisi komunikasi. Teknologi dapat digunakan untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar.
Beberapa perangkat berbasis AI bahkan mampu membaca pola percakapan masyarakat. Data tersebut dapat membantu tim komunikasi melihat isu yang sedang berkembang.
Selain itu, AI dapat mendukung proses evaluasi performa komunikasi. Praktisi dapat memanfaatkan data untuk melihat tingkat keterlibatan audiens terhadap suatu konten.
Berikut beberapa pemanfaatan teknologi yang semakin relevan dalam pekerjaan PR:
- Social listening, untuk memantau percakapan dan sentimen publik.
- Analisis data, untuk memahami performa komunikasi secara lebih terukur.
- Automated task management, untuk membantu mengatur pekerjaan rutin.
- Pemantauan tren digital, untuk melihat isu yang berpotensi berkembang.
- Analisis komunikasi, untuk membantu mengevaluasi respons audiens.
- Pemantauan potensi krisis, sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil tindakan.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan praktisi PR. Namun, teknologi sebaiknya ditempatkan sebagai alat pendukung.
Praktisi tetap harus menentukan tujuan komunikasi. Mereka juga perlu menilai konteks, risiko, serta dampak pesan sebelum disampaikan kepada publik.
Di sisi lain, kemampuan meningkatkan kompetensi juga menjadi penting. Pelatihan, akreditasi, dan sertifikasi profesi dapat membantu praktisi menghadapi perubahan tuntutan pekerjaan.
Pengalaman ITB dalam Menghadapi Krisis Komunikasi
Pemanfaatan teknologi dalam komunikasi krisis juga menjadi salah satu contoh yang dibahas dalam webinar. Nurlaela menceritakan pengalaman ITB ketika menghadapi percakapan publik yang berkembang terkait meme mahasiswa FSRD.
Dalam situasi tersebut, pemantauan percakapan digital membantu tim memahami perkembangan isu. Teknologi digunakan untuk melihat dinamika pembicaraan publik sebelum menentukan langkah komunikasi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan bukan satu-satunya faktor dalam menghadapi krisis. Ketepatan membaca situasi juga sangat menentukan.
Tim komunikasi perlu mengetahui sejauh mana sebuah isu berkembang. Setelah itu, barulah keputusan komunikasi dapat dibuat dengan lebih terukur.
Langkah tersebut penting agar organisasi tidak memberikan respons secara terburu-buru. Respons yang terlalu reaktif justru dapat memperbesar perhatian publik terhadap suatu masalah.
Karena itu, strategi komunikasi krisis membutuhkan kombinasi teknologi dan pertimbangan manusia. AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan penilaian profesional.
Human Touch Tetap Menjadi Kekuatan PR
Meski kemampuan AI berkembang cepat, Nurlaela menilai sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting dalam profesi PR. Teknologi dapat menghasilkan teks, tetapi belum mampu sepenuhnya menggantikan empati manusia.
Komunikasi publik tidak hanya berkaitan dengan pilihan kata. Cara memahami perasaan, kekhawatiran, dan kebutuhan audiens juga sangat menentukan keberhasilan pesan.
Hal tersebut semakin penting ketika organisasi menghadapi situasi sensitif. Dalam kondisi krisis, publik membutuhkan komunikasi yang jelas sekaligus menunjukkan kepedulian.
AI dapat membantu menyusun materi awal. Namun, praktisi tetap perlu memeriksa konteks dan memastikan pesan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Pendekatan serupa berlaku dalam membangun identitas merek. Teknologi dapat membantu menyusun panduan komunikasi dan mengolah berbagai data.
Namun, interpretasi visual, hubungan antarmanusia, serta komunikasi langsung masih membutuhkan keterlibatan manusia. Di sinilah human touch menjadi pembeda.
Etika Menjadi Bagian Penting Pemanfaatan AI
Selain kemampuan teknis, penggunaan AI dalam PR juga membutuhkan perhatian terhadap etika. Teknologi tidak boleh digunakan hanya demi mengejar kecepatan.
Praktisi harus mempertimbangkan akurasi informasi. Mereka juga perlu memastikan penggunaan teknologi tidak mengurangi kepercayaan publik.
Kepercayaan menjadi aset penting dalam hubungan antara organisasi dan masyarakat. Karena itu, komunikasi yang terlalu bergantung pada konten otomatis dapat menimbulkan risiko jika tidak melalui proses pemeriksaan.
Dalam kondisi tertentu, AI memang dapat membantu mempercepat pekerjaan. Misalnya ketika organisasi perlu memahami isu dengan cepat atau menyiapkan materi awal.
Meskipun begitu, penggunaan AI untuk membangun hubungan jangka panjang membutuhkan pertimbangan lebih matang. Komunikasi yang terasa terlalu otomatis dapat mengurangi kedekatan dengan audiens.
Karena itu, praktisi PR perlu menyeimbangkan teknologi dengan nilai kemanusiaan. Empati, kreativitas, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan tetap menjadi kompetensi utama.
PR Masa Depan Membutuhkan Kolaborasi Manusia dan Teknologi
Perkembangan AI pada akhirnya tidak harus dilihat sebagai ancaman bagi profesi PR. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas apabila digunakan secara tepat.
Praktisi yang mampu beradaptasi akan memiliki peluang lebih besar menghadapi perubahan tersebut. Kemampuan teknis perlu berjalan bersama dengan kemampuan strategis dan interpersonal.
Dalam konteks ini, strategi public relations di era AI bukan sekadar menggunakan sebanyak mungkin teknologi. Fokus utamanya adalah bagaimana teknologi membantu organisasi berkomunikasi secara lebih efektif.
PR masa depan membutuhkan kemampuan membaca data sekaligus memahami manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam membangun hubungan yang berkelanjutan dengan publik.
Pesan yang cepat belum tentu menjadi pesan yang efektif. Begitu pula konten yang terlihat sempurna belum tentu mampu membangun kepercayaan.
Oleh sebab itu, penggunaan AI perlu disertai pengawasan manusia. Setiap informasi yang dihasilkan teknologi harus diperiksa sebelum digunakan dalam komunikasi publik.
Pada akhirnya, AI dapat membantu praktisi bekerja lebih cepat. Namun, empati tetap menjadi kekuatan yang membuat komunikasi terasa manusiawi.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa teknologi dan manusia tidak harus berada dalam posisi berlawanan. Keduanya dapat bekerja bersama untuk menciptakan komunikasi yang lebih relevan, adaptif, dan bertanggung jawab.
AI mungkin mampu meniru kata dan gaya bahasa. Namun, kemampuan memahami rasa, konteks, dan kebutuhan manusia tetap menjadi ruang penting bagi praktisi public relations.




